Minggu, 22 April 2018

When Nobody Care About Me

  Pukul satu malam lewat sebelas menit, disaat yang lain sudah tertidur lelap. Didalam sebuah ruangan yang sepi dan gelap, Aldi dan Rahmad sedang berbincang-bincang tentang masalah yang sedang dialami oleh Rahmad.
“Hidup gue kok begini banget ya” kata Rahmad.

Ya, Hadirin dan Hadirat sekalian, Perkenalkan Rahmad. Seseorang yang selalu mengeluh tentang kehidupannya. Dia terlahir di keluarga yang sederhana, namun dia selalu ingin terlihat keren oleh teman-temannya.
“Elu kenapa lagi sih, Mad?” terlihat Aldi yang seperti bingung dengan kalimat yang dikeluarkan oleh Rahmad.
“Iya ini hidup gue kapan bahagia nya dah? Tiap hari ada aja masalah yang buat gue kesel”
Ya memang Rahmad ini selalu mengeluh, meskipun hanya masalah kecil saja. Seperti saat dia lupa membawa headset untuk nongkrong di cafe, lupa mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh dosen.
“Emang lu kenapa lagi sih?” tanya Aldi.
“lu tau cara dapetin Percaya Diri ga sih? Gue lagi ngga percaya diri banget nih sekarang.” ujar Rahmad.

Tersenggol oleh kata-kata Rahmad barusan, Aldi melepas headset yang sedang digunakannya, lalu meletakkannya dimeja.
“Gampang kok untuk PeDe, yang penting elu harus banyak bersyukur aja.” Kata Aldi.
“Halah, tiap hari juga gue bersyukur. Tapi tetep aja gue ngga PeDe.” Ujar Rahmad, nada suaranya mendadak terdengar lebih serius.
“Sebenernya apa yang membuat elu ngga PeDe sih?” tanya Aldi.
“Iya, gue mau kayak lo gitu punya segalanya. Dan ga ada masalah apa-apa sama keluarga lu” kata Rahmad.

Aldi menarik napas panjang. Ia tidak ingin salah mengucapkan kata-kata dan ia hanya mengangguk berkali-kali.
“Kenapa kok lo diem aja, kayak patung lo” kata Rahmad dengan nada kesal.
“Emang siapa yang membuat lo ngga Pede?” tanya Aldi.
“Amy, Cewe gue. Dia mutusin gue gara-gara dia nganggep gue bukan cowo kriterianya lagi. Terus dia bete sama gue kenapa gue gabisa jadi yang dia impikan”.
"Ya kalo emang lu bukan yang diharapkan oleh dia, lepasin ajasih."
"Kok lu bukannya kasih solusi malah bikin gue tambah down sih, Di" ketus Rahmad.
"Ya kalo lu bukan kriterianya lagi yaudah putusin aja"
"Tapi gue udah berjuang sejauh ini" kata Rahmad sedikit sedih.

"Mad, ini bukan masalah berjuang atau tidak berjuang, lu udah terlalu lama menyiksa diri sendiri dan lupa bahwa lu juga sebetulnya berhak untuk bahagia. Dan lu juga pasti setuju pada akhirnya bahagia adalah berada dalam kepastian. Bukan sebaliknya kan." 

"Bener juga lu, Di." Ucap Rahmad.
"Nah mulai sekarang mending lu moveon deh dari dia.". Kata Aldi.
"Tapi gue kayaknya gabisa moveon, Dii"
"Bisa kok,Mad. Ngga bisa moveon itu hanya perasaan sementara, sih. Perasaan dimana lu merasa belum bisa lupa tentang mantan lu dan semua kenangan tentang dia. Itu wajar, paling 2 atau 3 bulan lagi bisa lupa."
"Lu kalo gacepet cepet moveon cuma buang-buang waktu lu, nah terus kalo lu bisa cepet moveon lu bisa dapet pacar baru deh." Tambah Aldi.

"Iya dii, untuk yang cepet moveon nya sih bisa gue tapi kalau untuk dapet pacar baru kayaknya susah deh." Ujar Rahmad.

(Bersambung ke Minggu depan! Itupun kalau sempat)

Minggu, 15 April 2018

Rambut baru!

Hallo gais!
Kali ini gue mau cerita-cerita tentang rambut gue yang agak sedikit kontroversial. Buat yang belum sempat ketemu gue, gue kasih tau nih ya rambut gue kayak vokalisnya 1975 pas di lagu dia yang girls.
thats right!
Kayak punkrock gitu ya tapi itu keren menurut gue :(

Kita throwback saat pertama mau potong rambut ini...
"bang bisa potong rambut kayak gini ga?" sambil memperlihatkan foto vokalis 1975.
"bisa kok" kata abangnya.
yaudah langsung lah dipotong rambut gue yang saat itu masih gondrong.
Tapii.... Kok anehh yaa jadinya pas gue liat pertama kali hasil potongan rambut ini :(
Yauda tidak apa-apa gue harus tetap percaya diri dengan model begini.

Hari pertama dengan rambut ala punkrock ini gue lebih banyak mendapatkan komentar negatif daripada positif. but thats no problem because I am brave, I am who I'm meant to be, this is me.

"Rambut lo kenapa gitu haha"
"Mantap lu pede banget rambut kayak gitu, salut gue"
"Anjir lu kayak anak punk yang sering di kereta"
"Mending lu sekalian botakin dah gacocok begitu"
"Inspirasi lo apaan dah kocak"
"Buset dah itu rambut lu udah kayak kadal aje"

Begitulah reaksi teman-teman gue saat pertama kali liat rambut gue.

BUT..
Everything, everything will be just fine
Everything, everything will be all right

Pernah satu hari saat gue lagi naik mobil. Gue buka kaca nih, kan gue duduk dibelakang. Ada ibu-ibu lagi naik motor, dia ngeliat gue. Tau gak apa reaksi ibu-ibu tersebut? dia langsung bengong dan kayak kaget gitu liat gaya rambut gue sampe motor dia udah jauh pun masih liat ke gue. Kira-kira jarak motor dia ke gue itu 1km lah. Buset dah jauh bener yak. Ett ibu ngapa yak

Di kampus pun banyak yang melihat dengan tampang sinis kayak jijik yatuhan emangnya gue sampah masyarakat apa kok ngelihatnya gitu :((
Apakah gue harus potong rambut lagi sampai botak? :(
yauda gitu ajasi nanti kalian juga malah ikut sedih baca ceritanya :(

Dear...

Dear adik yang jauh disana.
Dik, adik jadi rekor orang yang paling lama aku cintai loh.
Sejak 2 tahun yang lalu, saat mata kuliah bahasa inggris.
Diriku melihatmu dari kejauhan, saat itu adik sedang tersenyum.
Wajah samping adik yang begitu keren dan mempesona.
Masih teringat sampai detik ini.
Kalau bisa, tentu aku lebih memilih kita tidak jadi siapa-siapa.
Kalau bisa, aku ingin mengenalmu sekadarnya, tanpa perlu membawa perasaan.
Lalu aku tersadar, aku bukan prioritas.

*biar makin sendu segera play lagu galau guys*

Apakah aku boleh mencintai adik lebih dalam?
Atau hanya boleh aku cintai diam-diam?
Apa yang salah dengan mencintai dalam diam?
Banyak orang beranggapan hal itu hanya membuang-buang waktu dan terasa percuma.
Jika saja kita bisa saling jujur satu sama lain.
Apakah adik masih bersama dirinya?
Sampaikan pada dirinya, jika memang ia belum siap biarkan aku saja yang maju.
Kau terlalu indah untuk menanti tanpa kepastian.

Minggu, 01 April 2018

Matahariku

Sudah dua tahun ku menunggu
Betapa lama menunggu kembalimu
Hanya untuk bertemu
Melepas rindu denganmu
Namun mungkin itu hanyalah harapan semu
Karena diriku hanya diam membisu
Tak ada kata yang keluar dariku
Untuk mengungkapkan hal itu

Matahariku, sinari aku dengan cahayamu
Resah ini adalah hendak bertemu
Kembalikan bahagiaku
Ukirlah kembali senyumku dengan tawamu
Tawamu yang semanis madu
Tak perlu banyak waktu
Singkat namun dapat melumpuhkan hatiku
Semoga tuhan mendengar doaku